Apabila suatu gaya
dalam ditahan oleh penampang batang maka di dalam penampang batang tersebut
akan mengalami adanya tegangan. Tegangan adalah reaksi yang timbul di
seluruh bagian spesimen dalam rangka menahan beban yang diberikan. Bila
penampangnya kecil itu dijumlah hingga mencapai penampang spesimen, maka jumlah
gaya per satuan luas yang muncul di dalam bahan itu harus menjadi sama dengan
beban dari luar.
Satuan yang
digunakan dalam penjabaran tegangan adalah satuan gaya dibagi dengan satuan
luas. Pada satuan SI, gaya diukur dalam Newton (N) dan luas diukur dalam satuan
meter kuadrat (m2). Biasanya, 1 N/m2 dikenal sebagai satu
Pascal (Pa). Apabila dijabarkan dalam rumus adalah sebagai berikut :
σ = F/A
dengan :
σ : Tegangan (N/m2)
F : gaya (Newton)
A : luas (m2)
Ditinjau dari arah gaya dalam yang terjadi,
tegangan diklasifikasikan menjadi 2 jenis, yaitu :
a. Tegangan normal yakni tegangan yang terjadi karena pengaruh dari gaya
normal.
b. Tegangan tangensial yakni tegangan yang terjadi karena pengaruh gaya
tangensial.
Sedangkan menurut jenis pembebanan yang
diberikan, tegangan diklasifikasikan menjadi:
1. Tegangan tarik
2. Tegangan geser
3. Tegangan tekan
4. Tegangan puntir
5. Tegangan lengkung/bengkok
Apabila di dalam
satu penampang terjadi lebih dari satu jenis tegangan dengan waktu yang
bersamaan, dalam hal ini terjadi tegangan gabungan yang didefinisikan
sebagai penjumlahan dari kuadrat tegangan (normal) dengan hasil kuadrat atas
konversi tegangan- tegangan (tangensial) yang dikalikan tiga. Kemudian hasil
penjumlahan tersebut di akar kuadratkan sehingga akan diperoleh nilai tegangan
gabungan. Besarnya konversi tegangan tergantung dari jenis dan kasus
pembebanan.
Konsep dari
tegangan dapat diilustrasikan pada sebuah batang prismatis yang mendapat gaya
aksial. Batang prismatis adalah sebuah elemen struktural lurus yang
mempunyai penampang kostan di seluruh panjangnya dan gaya aksial
adalah beban yang arah sama dengan sumbu elemen, sehingga mengakibatkan tarik
atau tekan pada batang. Pada gaya aksial, komponen ini mengukur kerja tarikan
atau tekanan di penampang.
Suatu tarikan
menyatakan suatu gaya tarik yang cenderung memperpanjang batang, sedangkan
suatu tekanan adalah gaya tekan yang cenderung memperpendek batang. Gaya ini
selalu diberi notasi P. Sedangkan gaya geser merupakan suatu tahanan total
akibat geseran salah satu sisi penampang suatu bagian terhadap bagian yang lain
dan gaya ini selalu diberi notasi V.
Dari konsep dan
rumus yang telah dijabarkan, maka kita dapat membagi tegangan menjadi beberapa
jenis yakni tegangan tarik (tensile stress), tegangan tekan (compressive
stress), tegangan normal (normal stress), tegangan geser (shear stress),
tegangan dukung (bearing stress), tegangan puntir, dan tegangan lengkung
(bengkok).
Pada tegangan
tarik dan tegangan tekan, distribusi akan terbagi rata apabila garis gaya
aksial melalui pusat berat penampang melintang. Dengan demikian, maka untuk
memperoleh tarik atau tekan yang terbagi rata pada suatu batang prismatis, maka
gaya aksial harus bekerja melalui pusat berat penampang.
Jika suatu bidang
melewati suatu benda, maka gaya yang bekerja di sepanjang bidang tersebut
disebut gaya geser atau gaya gesek (shearing force). Gaya ini kita
simbolkan dengan Fs. Perbandingan tegangan geser dan
tegangan normal apabila kita misalkan suatu potongan batang dengan bidang a-a
tegak lurus pada sumbunya, seperti gambar dibawah. Tegangan normal σ
tegak lurus bidang a-a. Tegangan geser bekerja di sepanjang atau
sejajar bidang, yang ditunjukkan dengan simbol τ. Dengan demikian
perbedaan antara tegangan geser dan tegangan normal adalah didasarkan pada
arahnya.
Tegangan geser berbeda dengan tegangan tarik
maupun tegangan tekan, karena tegangan geser disebabkan oleh gaya yang bekerja
sepanjang atau sejajar dengan luas penahan gaya, sedangkan tegangan tarik atau
tegangan tekan disebabkan oleh gaya yang tegak lurus terhadap luas bidang gaya.
Tegangan geser terjadi apabila beban
terpasang menyebabkan salah satu penampang benda cenderung mengelincir pada
penampang yang bersinggungan. Tegangan geser dapat dibagi menjadi dua, apabila
ditinjau dari banyaknya geseran bidang yang terjadi yakni geser tunggal dan
geser ganda. Dalam geser ganda, masing-masing gaya geser sama dengan setengah
dari beban total yang disalurkan, artinya V=P/2.
Tegangan geser
langsung merupakan tegangan yang dihasilkan oleh aksi langsung dari gaya-gaya
dalam upaya memotong bahan. tegangan geser langsung terjadi pada desain
sambungan yang menggunakan baut, sendi, paku keling, kunci, las, atau lem.
Tegangan geser secara tidak langsung apabila elemen struktur mengalami tarik,
torsi, dan lentur.
Pada setiap kasus,
apabila tegangan geser terjadi di sepanjang luas yang sejajar dengan beban
kerja maka disebut tegangan geser langsung searah. Tegangan geser
langsung searah berlawanan dengan tegangan geser induksi yang
terjadi pada penampang miring dengan beban resultan.
Sebagai ilustrasi
tentang aksi tegangan geser, maka kita dapat meninjau sambungan baut. Sambungan
tersebut terdiri dari batang datar, pengapit, dan baut yang menembus lubang di
batang dan pengapit. Akibat aksi beban tarik, batang dan pengapit akan menekan
baut dengan cara menumpu (bearing) dan tegangan kontak yang disebut tegangan
tumpu akan timbul. Selain itu, batang dan pengapit cenderung menggeser baut dan
kecenderungan ini ditahan oleh tegangan geser pada baut.
Sifat dari
tegangan geser yakni apabila tegangan geser pada muka yang berhadapan (dan
sejajar) dari suatu elemen sama besar dan berlawanan arah. Dan apabila tegangan
geser di muka yang bersebelahan (dan tegak lurus) dari suatu elemen sama besar
dan mempunyai arah sedemikian sehingga tegangan-tegangan tersebut saling menuju
atau saling menjauhi garis perpotongan kedua muka tersebut.
Apabila tegangan geser dijabarkan dalam
rumus, maka tegangan geser akan menjadi :
τ = V/A
dimana :
τ = tegangan geser (N/m2)
V = gaya geser (newton)
A = luas (m2)
Tegangan dukung
adalah tegangan yang dihasilkan akibat kontak dari dua benda. Tegangan dukung
berbeda dengan tegangan tekan dimana tegangan tekan adalah tegangan dalam yang
disebabkan oleh gaya tekan, sedangkan tegangan dukung disebabkan oleh
tegangan singgung antara benda yang terpisah. Beberapa contoh tegangan dukung
adalah tegangan tekanan tanah di bawah dermaga dan gaya pada pelat dukung.
Tegangan lengkung
adalah tegangan yang diakibatkan karena adanya gaya yang menumpu pada titik
tengah suatu beban sehingga mengakibatkan benda tersebut seakan-akan
melengkung. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar di bawah ini :
Sedangkan rumus untuk tegangan lengkung ini
adalah :
F = Ra + Rb
τb
= Mb/Wb
dimana:
Mb = momen lengkung
Wb
= momen tahanan lengkung
Tegangan puntir
merupakan tegangan yang diakibatkan oleh gaya putar. Tegangan puntir sering
terjadi pada poros roda gigi dan batang torsi pada mobil, juga saat melakukan
pengeboran. Jadi, merupakan tegangan tangensial.
Benda yang mengalami beban puntir akan
menimbulkan tegangan puntir sebesar :
τt = Wp/Mt
dimana :
Mt
= momen puntir (torsi)
Wp
= momen tahanan polar (pada puntir)